Selasa, 25 November 2008

Beberapa Kiat Untuk Cepat Selesai Pada Program S2 Politik Lokal Ugm Yogyakarta

Kamarudin Andalah: Alumni Program S2 Politik Lokal UGM . Diunduh dari : (http://plod.ugm.ac.id/plod.php?about=kiat3.htm

PROGRAM Pascasarjana konsentrasi Politik Lokal dan Otonomi Daerah merupakan lembaga pendidikan di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada yang menekuni kajian dan penyembangan nilai-nilai spesifik lokal. Hasil kajian nilai-nilai tersebut menjadi bahan pertimbangan dalam pengembangan dan implementasi otonomi daerah di seluruh wilayah Indonesia. Salah satu metode yang dikembangkan oleh lembaga pendidikan tersebut adalah merekrut mahasiswa dari berbagai daerah baik sebagai birokrasi, akademisi, LSM maupun berbagai profesi lainya.

Berbeda dengan Program S2 lain, Program Politik Lokal dan Otonomi Daerah terdapat beberapa kemudahan yang menguntungkan mahasiswa. Keuntungan dan kemudahan tersebut antara lain pengaturan waktu dan materi kuliah. Pengalokasian waktu kuliah 14 minggu dalam satu semester masing-masing lima mata kuliah pada semester pertama dan kedua serta tiga mata kuliah pada semester ke tiga. Pada semester keempat khusus untuk menyelesaikan tesis. Materi kuliah kuliah yang diajarkan umumnya bersifat partisipatif, dimana Dosen pengampu menjelaskan pokok-pokok teoritis dengan pola tatap muka di kelas. kemudian mahasiswa mengembangkan sendiri teori itu melalui tugas-tugas yang diberikan. Setiap tugas biasanya dihubungkan dengan contoh-contoh kasus spesifik di Daerah masing-masing. Mata kuliah rutin umumnya tidak menjadi beban berat bagi mahasiswa apabila diikuti dengan prosedur yang telah ditetapkan, yang menjadi beban berat adalah pada saat proses penyusunan tesis.

Bagaimana cara dengan alokasi waktu dan materi kuliah tersebut, agar mahasiswa dapat cepat menyelesaikan tesis? Sangat tergantung dari stategi yang dipergunakan oleh mahasiswa yang bersangkutan. Pengalaman saya bersama empat rekan saya yaitu: Mustafa Kamal, (Aceh) Ampera Salim, dan Benny Kamil (Sumatra Barat) serta Hari Wahyudi (Jawa Timur) dengan strategi sebagai berikut:

Persiapan Topik Tesis.
Pada semester pertama, salah satu mata kuliah adalah Metodologi Penelitian, mata kuliah ini pada dasarnya melatih mahasiswa bagaimana menyusun proposal tesis yang baik dan sempurna dengan mempergunakan teori metodologi penelitian yang diajarkan untuk memudahkan kita menyusun tesis, topik dan pokok permasalahan yang dipergunakan sebagai tugas dalam mata kuliah ini diusahakan yang benar-benar kita pahami permasalahannya. Selanjutnya dapat kita kembangkan menjadi topik dan permasalahan tesis pada masa yang akan datang. Dalam mengembangkan topik dan permasalahan itu jangan lupa kita lakukan pra seminar dengan kawan-kawan sekelas dan minta tanggapan dari dosen pengampu mata kuliah metodelogi penelitian. Tujuan pra seminar adalah untuk menyempurnakan kekurangan-kekurangan dalam proposal sebagai tugas akhir mata kuliah ini.

Persiapan Draf Proposal Tesis.
Pada semester kedua kita melakukan persiapan bahan dan teori dengan mengumpulkan buku-buku yang berhubungan dengan topik dan permasalahan yang ingin kita kembangkan dalam penyusunan tesis. Pada semester ini sambil mengikuti kuliah kita menyusun draf proposal tesis, apabila draf proposal sudah rampung konsultasi dengan dosen pembimbing akademik yang telah ditentukan oleh pengelola program. Dalam konsultasi tersebut tentunya ada arahan dan saran perbaikan dari dosen pembimbing akademik, arahan pembimbing kita catat dalam buku khusus untuk menyempurnakan draf proposal. Pada semester dua ini merupakan titik fokus dalam penyelesaian draft proposal. Tugas-tugas makalah mata kuliah kita hubungkan dengan topik dan permasalahan tesis, sebagai latihan dalam penyelesaian tesis nanti.

Seminar Proposal
Seminar proposal kita usahakan pada akhir kuliah semester ke dua, agar pada Saat libur semester ke dua kita dapat memanfaatkan waktunya untuk penelitian. Sebelum penelitian kita harus mempersiapkan kerangka-kerangka pertanyaan yang berhubungan dengan indikator-indikator yang ingin kita teliti. Masa penelitian biasanya antara satu sampai tiga bulan, ini sangat tergantung jenis penelitian yang kita pergunakan. Sambil kita melakukan penelitian kita dapat sekaligus mengolah data yang kita peroleh dari penelitian karena dari hasil olahan sementara kita dapat mengetahui data dan informasi yang perlu dilengkapi. Hal ini untuk memudahkan dalam proses penyususnan tesis.

Penyusunan Tesis
Penyusunan tesis dapat kita lakukan pada semester ketiga. pada semester ini kita mempunyai waktu yang cukup karena hanya tinggal tiga mata kuliah yang harus kita selesaikan. Mata kuliah pada semester tiga biasanya padat dengan tugas-tugas makalah, tugas-tugas tersebut dapat kita manfaatkan untuk menghubungkan dengan data dan informasi hasil penelitian kita. Tugas makalah itu sangat membantu mahasiswa dalam rangka melakukan pra analisis, yang selanjutnya menjadi acuan dalam mengembangkan analisis pada tesis. Pada semester ketiga ini, disamping kita menyelesaikan tugas mata kuliah wajib kita harus mengkonsentrasikan diri pada penyelesaian penyusunan tesis. Setiap hambatan jangan lupa konsultasi dengan pembimbing agar kita mendapat arahan dan masukan dalam penyempurnaan penyusunan tesis. Pada setiap kesempatan membentuk tim kecil sesama rekan-rekan kelas untuk membahas dan mendapat kritikan. Kritikan itu sangat berguna untuk mematangkan draf tesis kita, disamping itu juga berguna sebagai bekal dalam dalam menghadapi ujian tesis.

Ujian Tesis.
Ujian tesis kita upaya pada akhir kuliah semester ketiga, setelah seluruh mata kuliah telah kita selesaikan. Pada akhir semester tiga ini rancangan tesis kita usahakan harus sudah disetujui oleh kedua pembimbing. yaitu pembimbing pertama dan kedua. Apabila sudah disetujui pembimbing kita daftarkan segera untuk mengikuti ujian tesis dan disertai dengan persyaratan administrasi lainnya seperti toefl. Sebelum kita mengikuti ujian tesis kita harus mendalami secara matang agar dalam ujian dapat kita jelaskan secara sempurna dan terinci. Kita sadari bahwa dengan keterbatasan waktu tim penguji tesis kita tidak seluruhnya terbaca. Oleh karena itu kita harus dapat menggambarkan secara terinci dan dapat menyakinkan tim penguji setiap pertanyaan dan tanggapan yang disampaikan.

Kenapa bisa Tamat 3 (Tiga) Semester di Politik Lokal dan Otonomi Daerah?

Tulisan ini ungkapan Alumni S2 Politik Lokal UGM , bernama: Ampera Salim. Diunduh dari (http://plod.ugm.ac.id/plod.php?about=kiat3.htm). Selamat membaca!
AWAL Januari 2000, begitu surat tanda diterima di Politik Lokal dan Otonomi Daerah Fisipol UGM sampai di rumah saya (Jl. Gunung Pangilun, Komplek PGRI No. 15 Padang), saya merasa cemas karena merasa tidak punya persiapan lahir dan bathin untuk kuliah di UGM. Untung dalam surat itu disebutkan, bahwa saya diterima untuk angkatan ke III yang kuliahnya dimulai 31 Juli 2000. dengan adanya rentang waktu enam bulan itulah kesempatan bagi saya untuk mempersiapkan segala sesuatunya.

Pada tanggal 15 Juli 2000 saya sudah meninggalkan kota Padang. Mobil Toyota Corolla 88 yang saya beli dua tahun sebelumnya sudah "dilego" Rp. 20 juta. Setelah menyelesaikan seluruh utang piutang saya mengantongi bekal saya bersama istri dan dua orang anak yang masih balita. Sedangkan untuk bekal moril lainnya, seluruh buku-buku yang berkaitan dengan adat dan budaya Minangkabau sudah saya bungkus dengan karton. Sebab saya yakin ketika berbicara politik lokal, di kelas nantinya, pasti ada yang membicarakan adat dan budaya daerah.

Tanggal 31 Juli 2000, angkatan III Plokda mulai mengikuti kuliah pembekalan, atau disebut juga matrikulasi. Itulah pertama kalinya saya bertatap muka dengan Prof. Dr. Afan Gaffar, Dr. Riswanda Imawan, Dr. Pratikno, Dr. Purwo Santoso, Bambang Purwoko MA, Corneis Lay MA, Haryanto MA, Abdul Gaffar Karim MA, Josef Riwukaho MPA dan Ratnawati SU. Belakangan saya juga kenal dengan Mashuri Maschab SU.
Begitu mengikuti kuliah pertama di semester 1, saya berusaha dengan seserius mungkin. Saya sering berupaya duduk di bangku paling depan. Semua ini saya lakukan, karena saya menganggap bangku kuliah di S2 UGM sangat tinggi nilainya. Sejak kecil saya bercita-cita saya terkabulkan. Itulah prinsip saya selama kuliah di Politik Lokal dan Otonomi Daerah.

Hari demi hari saya lalui dengan santai dan tenang. Suasana akrab yang kami bangun di kelas Angkatan IIIB sangat mendukung mengikat hati saya untuk selalu datang ke kampus. Selain itu cerita-cerita para dosen disela-sela kuliah saya anggap sebuah informasi yang sangat berharga sekali. Apalagi pengalaman luar negeri yang pernah dialami para guru-guru saya ini. Sungguh, semuanya sangat menyejukkan pikiran saya dan menambah kekayaan bathin bagi saya.

Setiap tugas yang diberikan para dosen, semuanya saya kerjakan dengan baik. Begitu juga saat melaksanakan ujian, saya juga sangat hati-hati. Sehingga saya setiap semester selalu mendapatkan IP 3,6 dengan pembagian nilai sebagai berikut : nilai A tiga mata kuliah dan nilai B dua mata kuliah. Jujur saya akui bahwa nilai itu memang wajar saya dapatkan. Saya menganggap penilaian itu sesuai dengan apa yang saya laksanakan.

Kenapa bisa tamat 3 semester?
Begitu saya diwisuda 25 Januari 2003 perasaan saya sangat lega sekali. Ibu saya Hj. Maknaiyah yang sudah berumur 70 tahun saya ajak ke Yogyakarta. Banyak orang mempertanyakan kenapa Ampera Salim bisa secepat itu selesai di UGM? Padahal rata-rata peserta tugas belajar lainnya dari Sumbar bisa tamat 4 semester. Hingga kini saya dengan Sdr. Benny Kamil termasuk pengukir sejarah di Pemda Provinsi Sumatera Barat, yang menamatkan studi dalam waktu 16 bulan saja.

Saya akui terus terang dalam tulisan ini, orang yang sangat mendukung saya menamatkan S2 Politik Lokal dan Otonomi Daerah secepat itu adalah: Dr. Purwo Santoso dan Abdul Gaffar Karim. Kedua beliau adalah dosen pembimbing saya.

Akan tetapi, saya tidak melupakan peranan Riswanda Imawan dengan mata kuliahnya Etika Kepemimpinan yang juga besar. Sebab, melalui tugas-tugas yang beliau berikan sekaligus bagi saya mengumpulkan bahan untuk tesis. Selanjutnya dengan tugas mata kuliah Metode Penelitian dari Bambang Purwoko saya juga sangat terbantu dalam langkah pertama membuat tesis. Sebab, tesis yang saya buat merupakan tugas dalam mata kuliah yang diberikan Bambang Purwoko dan Ratnawati.

Memasuki semester kedua, sebuah proposal tesis langsung saya berikan pada Abdul Gaffar Karim. Saya masih ingat sebelumnya, beliau menyakai saya selaku pembimbing akademik, tentang tesis. Saya jawab, bahwa saya baru masuk semester dua. Akan tetapi kata Pak Dul (nama panggilan Pak Abdul Gaffar: red), tidak masalah diajukan kalau memang sudah ada ancang-ancangnya. Maka, kesempatanlah bagi saya mengajukan proposal tesis yang tadinya hanya merupakan tugas dari Pak Bambang pada semester satu.

Memasuki liburan semester dua, saya sengaja tidak pulang kampung sebagaimana yang dilakukan teman-teman lain. Pada masa liburan itulah saya banyak punya kesempatan bertemu langsung dengan pembimbing. Saya bersyukur ketika Pak Purwo Santoso selaku deputi akademik, mengatakan pada Mbak Heni, kalau yang jadi pembimbing satu saya adalah dia sendiri.

Dengan diantar teman saya. Hendi Yulfan angkatan II, pertama kali saya berkunjung ke rumah Pak Purwo. Di rumah beliaulah saya mendapat bimbingan pertama kali. Beliau menunjukkan buku-buku yang kiranya saya perlukan. Akan halnya pembimbing dua, Abdul Gaffar Karim, lebih banyak mengarahkan saya pada fokus penelitian.

Kiat-kiat tamat cepat di Polokda :
1. Persiapkan buku-buku politik lokal (adat dan budaya).
2. Tugas mata kuliah Metode Penelitian dianggap sebagai permulaan tesis.
3. Begitu semester dua masuk langsung ajukan pada Penasehat Akademik.
4. Ikuti saran dari pembimbing sepenuhnya.
5. Segera kerjakan perbaikan sesuai disposisi pembimbing
6. Berdo’a dan tawakal selalu pada Allah SWT, Tuhan Yang maha Kuasa.

Begitulah hari-hari saya selama menempuh semester tiga. Saya selaku dekat dengan pembimbing. Saya turuti apa yang mereka sarankan. Saya kerjakan sesuai disposisi beliau. Hingga akhirnya, ketika baru saja semester tiga berakhir, Pak Pur mengatakan pada Mbak Heni, bahwa saya sudah boleh ujian pendadaran. Padahal waktu itu Pak Pur sendiri sedang berada di luar kota. Semua ini saya sadari, karena beliau sudah yakin, kalau tesis saya sudah selesai sesuai dengan apa yang disarankan dan yang diberikan dalam bimbingan.

Alhamdulillah pada tanggal 16 Desember 2002, saya sudah selesai pendadaran. Ikut dalam tim penguji dalam sidang tesis saya Almarhum Prof. Dr. Afan Gaffar yang sangat saya kagumi dan sayangi. Beliau menguji saya bersama Bambang Purwoko yang juga sudah akrab dengan proposal tesis saya karena merupakan tugas yang dia berikan.
Ketika sidang tesis berakhir, saya merasa terharu ketika Pak Afan datang menuju bangku saya, beliau mengulurkan tangan sambil memberikan ucapan selamat. Saya juga sangat bangga rasanya, ketika beliau mengatakan sebelumnya, behwa tesis saya yang berjudul Rekonstruksi Sistem Pemerintahan Nagari di Tinjau dari sudut Kelembagaan, sebenarnya bisa dikembangkan jadi disertasi dengan judul Dinamika Politik Lokal Minangkabau. Itu kalau seandainya saya berkesempatan menduduki jenjang S3 kelak dikemudian hari.

Tesis saya diberikan nilai A oleh empat orang pembimbing dan penguji ini merupakan kebanggaan tersendiri bagai saya. Dengan demikian pula IP saya dalam transkip nilai 3,6. nilai ini sudah cukup rasanya bagi saya. Sebab, selama hidup di Yogyakarta saya merasa banyak kekurangan dalam materi. Akan tetapi dengan tamat tiga semester, maka tanggungjawab Politik Lokal dan Otonomi Daerah pula mengembalikan uang kuliah satu semester kepada saya yang tadinya terlanjur dikirimkan Pemrov Sumbar empat semester. Uang itulah bagi saya dengan anak istri kembali menuju Ranah Minangkabau yang sangat saya cintai dan banggakan.

Antara Komitmen Kerakyatan dan Visi Keilmuan

Artikel ini di unduh dari salah satu tulisan di Program Politik Lokal UGM , ditulis oleh Ansel alaman (http://plod.ugm.ac.id/plod.php?about=kiat.htm) . Selamat Membaca..semoga bermanfaat.


SEKRETARIAT meminta saya menuliskan kiat belajar sukses. Saya ingin mengungkapkannya secara lebih substantif, berupa "kesaksian" dengan sharing "secuil" pengalaman. Kalau saya termasuk mahasiswa yang menempuh studi dengan waktu cukup cepat dan memperoleh predikat cumlaude, harus saya akui itu bukan semata prestasi saya, tetapi kulminasi dari dinamika transaksi antara disiplin akademik, belajar mandiri/bersama serta transaksi personal dengan rekan mahasiswa, dosen dan staf sekretariat.
Ketika mendaftarkan diri untuk mengambil program pascasarjana UGM, saya bertanya pada diri sendiri, "Bisakah dengan latar belakang pendidikan filsafat agama di jenjang S1, saya menyelesaikan studi tepat waktu?" Gugatan pribadi yang lebih mendalam lagi ialah "Mungkinkah dalam empat semester, mendalami ilmu politik, untuk membaharui visi hidup saya, serta menguatkan komitmen mengabdi rakyat dan tidak sekedar mengejar gelar?" Gugatan-gugatan pribadi ini lahir dari keprihatinan akan kondisi rakyat Manggarai dan NTT umumnya, yang belum cukup memiliki ‘situs’ untuk memperjuangkan persamaan hak, laku keagamaan yang inklusif, tingkat kesejahteraan yang adil, dan sebagainya. Dengan pergulatan pribadi seperti itu, saya menggugat diri sendiri untuk sungguh berjuang dalam beberapa hal, yakni: disiplin akademik (perkuliahan, penyelesaian tugas dan interaksi/keterlibatan dalam perkuliahan), belajar mandiri dan bersama sekaligus menjalin hubungan baik dengan rekan mahasiswa, dosen dan staf sekretariat.

Disiplin Akademik
Saya berusaha semaksimal agar disiplin diri menjadi dasar berbagai aktivitas perkuliahan, walau beberapa kali mengecewakan karena terjadi pergantian jam tatap muka, dengan alasan dosen sering meninggalkan kampus. Dalam kuliah tatap muka, saya berusaha agar bisa berdialog/berkomunikasi secara aktif, dengan itu bisa mendalami visi keilmuan dan kontekstualisasinya. Pola perkuliahan yang bervariasi antar tutorial, seminar, diskusi bahkan mendatangkan ‘saksi-saksi lapangan’ bagi saya sangat menggairahkan sekaligus menantang, dari proses kuliah di program ini.
Dinamika perkuliahan selama 4 semester diproses secara dinamis. Semester I tidak hanya mengintrodusir visi keilmuan tetapi mulai mempersiapkan bimbingan penulisan tesis, ketika semester II mahasiswa diberi waktu lebih luas lagi untuk berkonsultasi bahkan di semester III sudah dapat mengambil kredit tesis. Konsultasi tesis dilakukan secara bertahap, mulai penentuan judul, kerangka dan isi keseluruhan, baru menulis proposal. Semester IV seluruhnya untuk tesis. Penggarapan tesis saya mengalami beberapa kali perubahan, karena cakupan materi terlalu luas, menganalisis terlalu banyak hal. Patut saya akui, itulah kekurangan si mantan guru SD, yang berkarya sejak 1979 ini.
Untuk kelancaran penulisan tesis, pentingnya pendekatan dengan Pembimbing secara berkala. Karena itu, sebaiknya sejak awal bimbingan, sudah disepakati metodologi penelitian, sehingga beberapa hal penting seperti data agregat, sudah dapat dihimpun pada saat mengisi liburan semester sebelumnya. Begitu pula sumber kepustakaan kiranya sejak semester awal sudah dikompilasi. Tesis adalah karya mahkota, maka segala komitmen, keprihatinan dan misi kuliah di Politik Lokal dan Otonomi Daerah bisa dicerminkan dikulminasi melalui karya tulis ini. Itulah yang menggerakkan saya, sekalipun banyak perubahan/perbaikan (sejak awal penentuan judul, penulisan sampai ujian tesis) bagi saya itu adalah sebuah dinamika untuk memastikan kualitas, perspektif dan kejelasan misi bahkan transformasi diri saya. Beberapa persoalan teknis serta administrasi lain yang berpautan dengan penulisan tesis pasti akan diperoleh saat kuliah.
Sisi lain dari disiplin akademik ialah aktivitas dalam proses perkuliahan. Saya berjanji pada diri sendiri untuk aktif berdialog dalam kuliah/seminar, dan untuk itu saya senantiasa menyiapkan diri. Aktivitas berdialog menjadi penting sebagai jembatan pemahaman dan pendalaman materi kuliah, bagi saya merupakan proses "mempersoalkan" konsep untuk sejalan dengan kondisi dan kebutuhan rakyat saat ini dan di sini (hic and nunc). Bagi saya dua hal ini, yakni dinamika perkuliahan dan penyelesaian tugas, adalah dasar transformasi diri dan visi keilmuan. Sementara tesis adalah karya mahkota, sebagai follow-up dan aplikasi dari transformasi di atas. Penyelesaian tugas, seperti makalah memang terasa membebankan, karena sering harus duduk sampai lewat pukul 00 WIB. Tetapi sebenarnya tugas-tugas itu sudah dikomunikasikan jauh-jauh hari sebelumnya, karena itu saya ditantang untuk disiplin dan menguasai diri dari kesibukan yang tidak perlu. Ada pengalaman kurang enak selama seminar/diskusi makalah yaitu ada yang suka plagiat, bagi saya hal itu memalukan dan (maaf) merupakan ‘pelacuran intelektual’. Dari sisi lain, keunikan lokal sangat apresiatif dalam seluruh perkuliahan, tugas akademik bahkan orientasi tesis dalam program ini.

Belajar Mandiri dan Bersama
Di lingkungan keluarga Saya termasuk yang berhobi ‘membaca dan membaca’. Sudah lama saya menggeluti hal seperti ini melalui perpustakaan pribadi. Sedemikian akrabnya saya dengan buku, sampai-sampai menjadi (maaf) "istri kedua". Pernah istri berpikiran lain ketika saya mengatakan, "Saya mempunyai pacar lain". Kemudian baru dia tahu maksudnya. Sejak kuliah S1 di Sanata Dharma, saya senang mengunjungi toko-toko buku dan loak buku-buku murah di kota ini. Buku telah merubah visi hidup saya. Mungkin karena cukup dekat dengan "rekan" yang satu ini, sampai-sampai kekurangan waktu untuk bergaul dan ini salah satu sisi kelemahan saya.
Selain buku, selama studi saya senang mengumpulkan koran, membuat kliping, khusus tentang opini dan analisa politik. Banyak makalah akademik yang saya buat berdasar inspirasi dari ilmu ‘gratis’ ini. Berkaitan dengan penggunaan waktu, saya membuat jadual pribadi, namun diakui sering kurang ditepati, karena harus bersamaan dengan mengurus anak-anak yang sekolah SMU di Jogya, SLTP di Flores dan SD di Jogya. Berat memang. Walaupun saya mendapat beasiswa dari DPP PDI Perjuangan, tetapi pengeluaran bulanan cukup besar. Namun saya yakin, Sang Maha Kasih tak akan pernah meninggalkan saya.
Selain belajar mandiri juga kami lakukan belajar kelompok. Walau harus saya akui bahwa banyak hal belum kami lakukan dengan belajar bersama teman. Tapi, setidaknya dengan kegiatan belajar bersama, kami menimba banyak hal dari teman kuliah. Saya berusaha menghayati belajar bersama ini bukan saja untuk membantu perkuliahan, tetapi juga membangun visi kerja tim dalam pengabdian di lapangan. Pengalaman saya, selama hampir 10 tahun melakukan pola kerja tim menjadi sangat efektif membangun kualitas dan keberhasilan kerja.
Akhirnya, last but not least, pentingnya menjalin hubungan baik dengan rekan mahasiswa dan dengan dosen, serta segenap staf sekretariat. Bagi saya, hubungan baik ini bukan ‘pelicin akademik’ tetapi membangun suasana "oke" dalam transaksi antar pribadi. Trims Politik Lokal dan Otonomi Daerah UGM, semoga kiprahmu terus bersinar, semakin banyak hati yang peduli pada demokratisasi dan "pemerdekaan" hak dan martabat kaum tersingkir, melalui proses perakyatan desain kebijakan, memperkuat komitmen elit pada rakyat, membarui etos kerja dan etika politik para politikus dan pemimpin lain, para pemerhati dan semua orang. Itu saja.

Kamis, 20 November 2008

PROFILE KETUA PROGRAM MIP


Profesor DR.Utang Suwaryo, Drs., MA adalah sosok pendidik yang sederhana yang sarat dengan ilmu pada bidang keilmuan pemerintahan. Selain sebagai Ketua Program Studi MIP Pasca Sarjana UNISMA Bekasi, Selain juga sebagai guru Besar Ilmu Pemerintahan di Universitas Padjajaran Bandung. Mahasiswa MIP UNISMA Bekasi memiliki kemampuan yang handal dalam manajemen pembangunan wilayah melalui bimbingan dan arahan Beliau.

PROGRAM MAGISTER ILMU PEMERINTAHAN

A. Visi

Berdasarkan visi dan misi Universitas Islam "45" maka ditetapkan visi penyelenggaraan Program Magister Ilmu Pemerintahan yaitu: “ Menghasilkan lulusan yang memiliki keunggulan dalam bidang Ilmu Pemerintahan yang mampu mengikuti perubahan dinamika politik dan pemerintahan dan memiliki kemampuan analisis pada manajemen pembangunan wilayah”.

B. Misi
Sejalan dengan rumusan visi Program Studi di atas, maka yang menjadi misi Program Studi Magister Ilmu Pemerintahan UNISMA yaitu:
1. Menyelenggarakan proses pendidikan Pascasarjana Magister Ilmu Pemerintahan sebagai upaya untuk meningkatkan kualifikasi dan kualitas kemampuan peserta didik dalam suasana akademik yang edukatif dan senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman.
2. Menyelenggarakan proses pendidikan Pascasarjana Magister Ilmu Pemerintahan melalui kurikulum yang peka terhadap perubahan domestik, regional dan nasional bahkan dengan trend global sekalipun.
3. Senantiasa mengembangkan gagasan-gagasan baru dan orisinal dalam bidang Ilmu Pemerintahan sebagai upaya sumbangsih pemikiran dalam perkembangan Ilmu Pemerintahan.
Berdasarkan visi dan misi Program Pascasarjana Magister Ilmu Pemerintahan, maka yang menjadi tujuan umum dari penyelenggaraan pendidikan pada Program Magister Ilmu Pemerintahan UNISMA adalah menghasilkan ilmuwan dan Praktisi Pemerintahan yang mampu melaksanakan tugas-tugas pekerjaannya secara profesional dalam bidang: konsultan pengembangan wilayah, tenaga pendidik (dosen), peneliti, dan pengembang ilmu di lingkungan lembaga pendidikan, praktisi politik, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), praktisi pemerintahan (birokrat), serta berbagai komponen masyarakat yang memiliki ketertarikan pada masalah-masalah pemerintahan.
C. Tujuan :
Tujuan pendirian Program Pascasarjana Ilmu Pemerintahan dengan konsentrasi studi Manajemen Pembangunan Wilayah yaitu menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan konseptual dan analitik baik sebagai akademisi maupun praktisi. Pertama, bagi akademisi dan pemerhati masalah-masalah pemerintahan, poltik dan pembangunan diharapkan akan mampu berperan sebagai tenaga pendidik, peneliti dan pemerhati yang mampu melakukan penelitian dan pengembangan ilmu di bidang pemerintahan dan manajemen pembangunan wilayah.Kedua, bagi para praktisi diharapkan para lulusannya memiliki kemampuan untuk menganalisis dan memecahkan masalah masalah pemerintahan dan manajemen pembangunan wilayah secara profesional.

D. Kompetensi :
1. Menguasai dan mampu menerapkan ilmu pemerintahan dan manajemen pembangunan wilayah dalam proses pemerintahan dan pembangunan;
2. Mampu merencanakan dan melaksanakan penelitian secara ilmiah dalam bidang ilmu pemerintahan terutama pada kajian manajemen pembangunan wilayah ;
3. Mampu menganalisis dan menggunakan beberapa pendekatan ilmu pemerintahan dan metode pengambilan kebijakan strategis dalam bidang pemerintahan dan pembangunan wilayah;
4. Mampu menganalisis dan merumuskan konsep perencanaan pembangunan wilayah dengan mengunakan teori dan pendekatan dalam perencanaan pembangunan wilayah, tata ruang dan lingkungan hidup;
5. Mampu menganalisis dan menerapkan manajemen perkotaan dan masyarakat urban dengan menggunakan beberapa pendekatan dan strategi yang tepat sesuai dengan perubahan dan dinamika masyarakat;
6. Mampu menganalisis dan menemukan solusi atas berbagai permasalahan politik, pemerintahan dalam penerapan otonomi daerah.
7. Mampu menganalisis dan merumuskan berbagai strategi penggalian potensi dan penggalian sumber-sumber keuangan daerah melalui berbagai pendekatan
E. Kurikulum dan Proses Pembelajaran
Kurikulum yang digunakan adalah kurikulum yang berorientasi kepada kurikulum inti yang dikeluarkan oleh Dirjen Pendidikan Tinggi dan muatan lokal yang diarahkan untuk terus mengikuti perkembangan penyelenggaraan Pemerintahan yang menetapkan pada prinsip Good Governance dan profesionalisme.
Adapun Kurikulum yang dipakai Program Magister Ilmu Pemerintahan di Universitas Islam “45” Bekasi merujuk kepada Keputusan Menteri Pendidikan Nasional RI nomor 232/U/2000 dapat dikelompokkan sebagai berikut :
a. Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian (MPK)
b. Mata Kuliah Keilmuan dan Keterampilan (MKK)
c. Mata Kuliah Keahlian Bekarya ( MKB)
d. Mata Kuliah Perilaku Berkarya ( MPB)
e. Mata Kuliah Berkehidupan Bermasyarakat ( MBB)
Untuk menyelesaikan Program Magister Ilmu Pemerintahan diperlukan 45 SKS, yang terdiri dari 36 SKS berupa Teori, 3 SKS Seminar, dan 6 SKS Tesis yang akan ditempuh dalam 4 (empat) semester. Rancangan Kurikulum Program Pascasarjana Magister Ilmu Pemerintahan UNISMA, dengan Bidang Kajian Utama Manajeme Pembangunan Wilayah .
Kurikulum yang digunakan adalah kurikulum yang berorientasi kepada kurikulum inti yang dikeluarkan oleh Dirjen Pendidikan Tinggi dan muatan lokal yang diarahkan untuk terus mengikuti perkembangan penyelenggaraan Pemerintahan yang menetapkan pada prinsip Good Governance dan profesionalisme.
Adapun Kurikulum yang dipakai Program Magister Ilmu Pemerintahan di Universitas Islam “45” Bekasi merujuk kepada Keputusan Menteri Pendidikan Nasional RI nomor 232/U/2000 dapat dikelompokkan sebagai berikut :
a. Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian (MPK)
b. Mata Kuliah Keilmuan dan Keterampilan (MKK)
c. Mata Kuliah Keahlian Bekarya ( MKB)
d. Mata Kuliah Perilaku Berkarya ( MPB)
e. Mata Kuliah Berkehidupan Bermasyarakat ( MBB)