Selasa, 25 November 2008

Kenapa bisa Tamat 3 (Tiga) Semester di Politik Lokal dan Otonomi Daerah?

Tulisan ini ungkapan Alumni S2 Politik Lokal UGM , bernama: Ampera Salim. Diunduh dari (http://plod.ugm.ac.id/plod.php?about=kiat3.htm). Selamat membaca!
AWAL Januari 2000, begitu surat tanda diterima di Politik Lokal dan Otonomi Daerah Fisipol UGM sampai di rumah saya (Jl. Gunung Pangilun, Komplek PGRI No. 15 Padang), saya merasa cemas karena merasa tidak punya persiapan lahir dan bathin untuk kuliah di UGM. Untung dalam surat itu disebutkan, bahwa saya diterima untuk angkatan ke III yang kuliahnya dimulai 31 Juli 2000. dengan adanya rentang waktu enam bulan itulah kesempatan bagi saya untuk mempersiapkan segala sesuatunya.

Pada tanggal 15 Juli 2000 saya sudah meninggalkan kota Padang. Mobil Toyota Corolla 88 yang saya beli dua tahun sebelumnya sudah "dilego" Rp. 20 juta. Setelah menyelesaikan seluruh utang piutang saya mengantongi bekal saya bersama istri dan dua orang anak yang masih balita. Sedangkan untuk bekal moril lainnya, seluruh buku-buku yang berkaitan dengan adat dan budaya Minangkabau sudah saya bungkus dengan karton. Sebab saya yakin ketika berbicara politik lokal, di kelas nantinya, pasti ada yang membicarakan adat dan budaya daerah.

Tanggal 31 Juli 2000, angkatan III Plokda mulai mengikuti kuliah pembekalan, atau disebut juga matrikulasi. Itulah pertama kalinya saya bertatap muka dengan Prof. Dr. Afan Gaffar, Dr. Riswanda Imawan, Dr. Pratikno, Dr. Purwo Santoso, Bambang Purwoko MA, Corneis Lay MA, Haryanto MA, Abdul Gaffar Karim MA, Josef Riwukaho MPA dan Ratnawati SU. Belakangan saya juga kenal dengan Mashuri Maschab SU.
Begitu mengikuti kuliah pertama di semester 1, saya berusaha dengan seserius mungkin. Saya sering berupaya duduk di bangku paling depan. Semua ini saya lakukan, karena saya menganggap bangku kuliah di S2 UGM sangat tinggi nilainya. Sejak kecil saya bercita-cita saya terkabulkan. Itulah prinsip saya selama kuliah di Politik Lokal dan Otonomi Daerah.

Hari demi hari saya lalui dengan santai dan tenang. Suasana akrab yang kami bangun di kelas Angkatan IIIB sangat mendukung mengikat hati saya untuk selalu datang ke kampus. Selain itu cerita-cerita para dosen disela-sela kuliah saya anggap sebuah informasi yang sangat berharga sekali. Apalagi pengalaman luar negeri yang pernah dialami para guru-guru saya ini. Sungguh, semuanya sangat menyejukkan pikiran saya dan menambah kekayaan bathin bagi saya.

Setiap tugas yang diberikan para dosen, semuanya saya kerjakan dengan baik. Begitu juga saat melaksanakan ujian, saya juga sangat hati-hati. Sehingga saya setiap semester selalu mendapatkan IP 3,6 dengan pembagian nilai sebagai berikut : nilai A tiga mata kuliah dan nilai B dua mata kuliah. Jujur saya akui bahwa nilai itu memang wajar saya dapatkan. Saya menganggap penilaian itu sesuai dengan apa yang saya laksanakan.

Kenapa bisa tamat 3 semester?
Begitu saya diwisuda 25 Januari 2003 perasaan saya sangat lega sekali. Ibu saya Hj. Maknaiyah yang sudah berumur 70 tahun saya ajak ke Yogyakarta. Banyak orang mempertanyakan kenapa Ampera Salim bisa secepat itu selesai di UGM? Padahal rata-rata peserta tugas belajar lainnya dari Sumbar bisa tamat 4 semester. Hingga kini saya dengan Sdr. Benny Kamil termasuk pengukir sejarah di Pemda Provinsi Sumatera Barat, yang menamatkan studi dalam waktu 16 bulan saja.

Saya akui terus terang dalam tulisan ini, orang yang sangat mendukung saya menamatkan S2 Politik Lokal dan Otonomi Daerah secepat itu adalah: Dr. Purwo Santoso dan Abdul Gaffar Karim. Kedua beliau adalah dosen pembimbing saya.

Akan tetapi, saya tidak melupakan peranan Riswanda Imawan dengan mata kuliahnya Etika Kepemimpinan yang juga besar. Sebab, melalui tugas-tugas yang beliau berikan sekaligus bagi saya mengumpulkan bahan untuk tesis. Selanjutnya dengan tugas mata kuliah Metode Penelitian dari Bambang Purwoko saya juga sangat terbantu dalam langkah pertama membuat tesis. Sebab, tesis yang saya buat merupakan tugas dalam mata kuliah yang diberikan Bambang Purwoko dan Ratnawati.

Memasuki semester kedua, sebuah proposal tesis langsung saya berikan pada Abdul Gaffar Karim. Saya masih ingat sebelumnya, beliau menyakai saya selaku pembimbing akademik, tentang tesis. Saya jawab, bahwa saya baru masuk semester dua. Akan tetapi kata Pak Dul (nama panggilan Pak Abdul Gaffar: red), tidak masalah diajukan kalau memang sudah ada ancang-ancangnya. Maka, kesempatanlah bagi saya mengajukan proposal tesis yang tadinya hanya merupakan tugas dari Pak Bambang pada semester satu.

Memasuki liburan semester dua, saya sengaja tidak pulang kampung sebagaimana yang dilakukan teman-teman lain. Pada masa liburan itulah saya banyak punya kesempatan bertemu langsung dengan pembimbing. Saya bersyukur ketika Pak Purwo Santoso selaku deputi akademik, mengatakan pada Mbak Heni, kalau yang jadi pembimbing satu saya adalah dia sendiri.

Dengan diantar teman saya. Hendi Yulfan angkatan II, pertama kali saya berkunjung ke rumah Pak Purwo. Di rumah beliaulah saya mendapat bimbingan pertama kali. Beliau menunjukkan buku-buku yang kiranya saya perlukan. Akan halnya pembimbing dua, Abdul Gaffar Karim, lebih banyak mengarahkan saya pada fokus penelitian.

Kiat-kiat tamat cepat di Polokda :
1. Persiapkan buku-buku politik lokal (adat dan budaya).
2. Tugas mata kuliah Metode Penelitian dianggap sebagai permulaan tesis.
3. Begitu semester dua masuk langsung ajukan pada Penasehat Akademik.
4. Ikuti saran dari pembimbing sepenuhnya.
5. Segera kerjakan perbaikan sesuai disposisi pembimbing
6. Berdo’a dan tawakal selalu pada Allah SWT, Tuhan Yang maha Kuasa.

Begitulah hari-hari saya selama menempuh semester tiga. Saya selaku dekat dengan pembimbing. Saya turuti apa yang mereka sarankan. Saya kerjakan sesuai disposisi beliau. Hingga akhirnya, ketika baru saja semester tiga berakhir, Pak Pur mengatakan pada Mbak Heni, bahwa saya sudah boleh ujian pendadaran. Padahal waktu itu Pak Pur sendiri sedang berada di luar kota. Semua ini saya sadari, karena beliau sudah yakin, kalau tesis saya sudah selesai sesuai dengan apa yang disarankan dan yang diberikan dalam bimbingan.

Alhamdulillah pada tanggal 16 Desember 2002, saya sudah selesai pendadaran. Ikut dalam tim penguji dalam sidang tesis saya Almarhum Prof. Dr. Afan Gaffar yang sangat saya kagumi dan sayangi. Beliau menguji saya bersama Bambang Purwoko yang juga sudah akrab dengan proposal tesis saya karena merupakan tugas yang dia berikan.
Ketika sidang tesis berakhir, saya merasa terharu ketika Pak Afan datang menuju bangku saya, beliau mengulurkan tangan sambil memberikan ucapan selamat. Saya juga sangat bangga rasanya, ketika beliau mengatakan sebelumnya, behwa tesis saya yang berjudul Rekonstruksi Sistem Pemerintahan Nagari di Tinjau dari sudut Kelembagaan, sebenarnya bisa dikembangkan jadi disertasi dengan judul Dinamika Politik Lokal Minangkabau. Itu kalau seandainya saya berkesempatan menduduki jenjang S3 kelak dikemudian hari.

Tesis saya diberikan nilai A oleh empat orang pembimbing dan penguji ini merupakan kebanggaan tersendiri bagai saya. Dengan demikian pula IP saya dalam transkip nilai 3,6. nilai ini sudah cukup rasanya bagi saya. Sebab, selama hidup di Yogyakarta saya merasa banyak kekurangan dalam materi. Akan tetapi dengan tamat tiga semester, maka tanggungjawab Politik Lokal dan Otonomi Daerah pula mengembalikan uang kuliah satu semester kepada saya yang tadinya terlanjur dikirimkan Pemrov Sumbar empat semester. Uang itulah bagi saya dengan anak istri kembali menuju Ranah Minangkabau yang sangat saya cintai dan banggakan.

Tidak ada komentar: