SEKRETARIAT meminta saya menuliskan kiat belajar sukses. Saya ingin mengungkapkannya secara lebih substantif, berupa "kesaksian" dengan sharing "secuil" pengalaman. Kalau saya termasuk mahasiswa yang menempuh studi dengan waktu cukup cepat dan memperoleh predikat cumlaude, harus saya akui itu bukan semata prestasi saya, tetapi kulminasi dari dinamika transaksi antara disiplin akademik, belajar mandiri/bersama serta transaksi personal dengan rekan mahasiswa, dosen dan staf sekretariat.
Ketika mendaftarkan diri untuk mengambil program pascasarjana UGM, saya bertanya pada diri sendiri, "Bisakah dengan latar belakang pendidikan filsafat agama di jenjang S1, saya menyelesaikan studi tepat waktu?" Gugatan pribadi yang lebih mendalam lagi ialah "Mungkinkah dalam empat semester, mendalami ilmu politik, untuk membaharui visi hidup saya, serta menguatkan komitmen mengabdi rakyat dan tidak sekedar mengejar gelar?" Gugatan-gugatan pribadi ini lahir dari keprihatinan akan kondisi rakyat Manggarai dan NTT umumnya, yang belum cukup memiliki ‘situs’ untuk memperjuangkan persamaan hak, laku keagamaan yang inklusif, tingkat kesejahteraan yang adil, dan sebagainya. Dengan pergulatan pribadi seperti itu, saya menggugat diri sendiri untuk sungguh berjuang dalam beberapa hal, yakni: disiplin akademik (perkuliahan, penyelesaian tugas dan interaksi/keterlibatan dalam perkuliahan), belajar mandiri dan bersama sekaligus menjalin hubungan baik dengan rekan mahasiswa, dosen dan staf sekretariat.
Disiplin Akademik
Saya berusaha semaksimal agar disiplin diri menjadi dasar berbagai aktivitas perkuliahan, walau beberapa kali mengecewakan karena terjadi pergantian jam tatap muka, dengan alasan dosen sering meninggalkan kampus. Dalam kuliah tatap muka, saya berusaha agar bisa berdialog/berkomunikasi secara aktif, dengan itu bisa mendalami visi keilmuan dan kontekstualisasinya. Pola perkuliahan yang bervariasi antar tutorial, seminar, diskusi bahkan mendatangkan ‘saksi-saksi lapangan’ bagi saya sangat menggairahkan sekaligus menantang, dari proses kuliah di program ini.
Dinamika perkuliahan selama 4 semester diproses secara dinamis. Semester I tidak hanya mengintrodusir visi keilmuan tetapi mulai mempersiapkan bimbingan penulisan tesis, ketika semester II mahasiswa diberi waktu lebih luas lagi untuk berkonsultasi bahkan di semester III sudah dapat mengambil kredit tesis. Konsultasi tesis dilakukan secara bertahap, mulai penentuan judul, kerangka dan isi keseluruhan, baru menulis proposal. Semester IV seluruhnya untuk tesis. Penggarapan tesis saya mengalami beberapa kali perubahan, karena cakupan materi terlalu luas, menganalisis terlalu banyak hal. Patut saya akui, itulah kekurangan si mantan guru SD, yang berkarya sejak 1979 ini.
Untuk kelancaran penulisan tesis, pentingnya pendekatan dengan Pembimbing secara berkala. Karena itu, sebaiknya sejak awal bimbingan, sudah disepakati metodologi penelitian, sehingga beberapa hal penting seperti data agregat, sudah dapat dihimpun pada saat mengisi liburan semester sebelumnya. Begitu pula sumber kepustakaan kiranya sejak semester awal sudah dikompilasi. Tesis adalah karya mahkota, maka segala komitmen, keprihatinan dan misi kuliah di Politik Lokal dan Otonomi Daerah bisa dicerminkan dikulminasi melalui karya tulis ini. Itulah yang menggerakkan saya, sekalipun banyak perubahan/perbaikan (sejak awal penentuan judul, penulisan sampai ujian tesis) bagi saya itu adalah sebuah dinamika untuk memastikan kualitas, perspektif dan kejelasan misi bahkan transformasi diri saya. Beberapa persoalan teknis serta administrasi lain yang berpautan dengan penulisan tesis pasti akan diperoleh saat kuliah.
Sisi lain dari disiplin akademik ialah aktivitas dalam proses perkuliahan. Saya berjanji pada diri sendiri untuk aktif berdialog dalam kuliah/seminar, dan untuk itu saya senantiasa menyiapkan diri. Aktivitas berdialog menjadi penting sebagai jembatan pemahaman dan pendalaman materi kuliah, bagi saya merupakan proses "mempersoalkan" konsep untuk sejalan dengan kondisi dan kebutuhan rakyat saat ini dan di sini (hic and nunc). Bagi saya dua hal ini, yakni dinamika perkuliahan dan penyelesaian tugas, adalah dasar transformasi diri dan visi keilmuan. Sementara tesis adalah karya mahkota, sebagai follow-up dan aplikasi dari transformasi di atas. Penyelesaian tugas, seperti makalah memang terasa membebankan, karena sering harus duduk sampai lewat pukul 00 WIB. Tetapi sebenarnya tugas-tugas itu sudah dikomunikasikan jauh-jauh hari sebelumnya, karena itu saya ditantang untuk disiplin dan menguasai diri dari kesibukan yang tidak perlu. Ada pengalaman kurang enak selama seminar/diskusi makalah yaitu ada yang suka plagiat, bagi saya hal itu memalukan dan (maaf) merupakan ‘pelacuran intelektual’. Dari sisi lain, keunikan lokal sangat apresiatif dalam seluruh perkuliahan, tugas akademik bahkan orientasi tesis dalam program ini.
Belajar Mandiri dan Bersama
Di lingkungan keluarga Saya termasuk yang berhobi ‘membaca dan membaca’. Sudah lama saya menggeluti hal seperti ini melalui perpustakaan pribadi. Sedemikian akrabnya saya dengan buku, sampai-sampai menjadi (maaf) "istri kedua". Pernah istri berpikiran lain ketika saya mengatakan, "Saya mempunyai pacar lain". Kemudian baru dia tahu maksudnya. Sejak kuliah S1 di Sanata Dharma, saya senang mengunjungi toko-toko buku dan loak buku-buku murah di kota ini. Buku telah merubah visi hidup saya. Mungkin karena cukup dekat dengan "rekan" yang satu ini, sampai-sampai kekurangan waktu untuk bergaul dan ini salah satu sisi kelemahan saya.
Selain buku, selama studi saya senang mengumpulkan koran, membuat kliping, khusus tentang opini dan analisa politik. Banyak makalah akademik yang saya buat berdasar inspirasi dari ilmu ‘gratis’ ini. Berkaitan dengan penggunaan waktu, saya membuat jadual pribadi, namun diakui sering kurang ditepati, karena harus bersamaan dengan mengurus anak-anak yang sekolah SMU di Jogya, SLTP di Flores dan SD di Jogya. Berat memang. Walaupun saya mendapat beasiswa dari DPP PDI Perjuangan, tetapi pengeluaran bulanan cukup besar. Namun saya yakin, Sang Maha Kasih tak akan pernah meninggalkan saya.
Selain belajar mandiri juga kami lakukan belajar kelompok. Walau harus saya akui bahwa banyak hal belum kami lakukan dengan belajar bersama teman. Tapi, setidaknya dengan kegiatan belajar bersama, kami menimba banyak hal dari teman kuliah. Saya berusaha menghayati belajar bersama ini bukan saja untuk membantu perkuliahan, tetapi juga membangun visi kerja tim dalam pengabdian di lapangan. Pengalaman saya, selama hampir 10 tahun melakukan pola kerja tim menjadi sangat efektif membangun kualitas dan keberhasilan kerja.
Akhirnya, last but not least, pentingnya menjalin hubungan baik dengan rekan mahasiswa dan dengan dosen, serta segenap staf sekretariat. Bagi saya, hubungan baik ini bukan ‘pelicin akademik’ tetapi membangun suasana "oke" dalam transaksi antar pribadi. Trims Politik Lokal dan Otonomi Daerah UGM, semoga kiprahmu terus bersinar, semakin banyak hati yang peduli pada demokratisasi dan "pemerdekaan" hak dan martabat kaum tersingkir, melalui proses perakyatan desain kebijakan, memperkuat komitmen elit pada rakyat, membarui etos kerja dan etika politik para politikus dan pemimpin lain, para pemerhati dan semua orang. Itu saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar